Saturday, December 13, 2014

Get Ready for the Next Stage

Hampir saja gue mengecewakan diri sendiri, nggak percaya diri dengan apa yang sudah diberi. Kehadiran little me yang tiba-tiba sudah hampir lima minggu waktu itu membuat hati gue bingung, mau senang atau mau sedih. Senang karena ini rezeki, memang sudah dinanti. Sedih karena keadaan yang lagi seperti ini, takut kalau badan nggak stabil dan mengecewakan suami kedepannya nanti.

Dokter yang tenang menjelaskan segalanya dan selalu bilang hal terburuk yang akan terjadi kalau ada sesuatu yang nggak kita tahu. Gue hanya pasrah, melihat semakin hari semakin stress karena pekerjaan yang semakin nggak stabil, semuanya di-push sampai tenaga terakhir. Sampai pada akhirnya bisa dibawa santai sama pikiran supaya nggak stress, banyak yang mengingatkan juga kalau trimester pertama itu harus dijaga. Pikiran aman terkendali, tapi sangat disayangkan badan sudah nggak bisa dikendalikan lagi. Tiga hari sebelum hari penentuan ada janin di kantung gue atau nggak, gue sakit, awalnya hanya bersin-bersin, karena semakin diforsir nggak kenal waktu, pulang malam malah membuat gue jadi flu.

Gue semakin nggak yakin.. cuma bilang sama little me, kalau memang rejeki dan kuat bertahan, kedepannya akan gue perhatikan.

Sehari sebelum ketemu dokter lagi, badan sudah lemas sekali, awalnya nggak mau masuk kerja, ingat sama janji yang nggak bisa dilewatkan demi nggak dicaci maki. Gue paksakan, berangkat siang, pulangnya kemalaman. Demam semakin menjadi, nggak boleh ada obat flu yang dikonsumsi, hidung terasa tertutup sendiri, cuma bisa minum air putih yang banyak dan makan buah jeruk yang asam dan manis sekali-kali. Nggak bisa tidur cepat saat itu, benar-benar nggak bisa napas dari hidung, nggak taunya sudah pagi lagi. Lemas sebadan-badan, mencoba kuat tapi badan menolak. Ingat kata nyokap, jangan minum obat, bikin saja air jahe hangat. Pagi menjelang siang, sebelum sarapan lumayan bikin hangat, napas juga lumayan lega. Menjelang sore, siap-siap ketemu dokter untuk penentuan.

Dokter nggak pakai basa-basi, langsung nyuruh naik untuk USG. Ini baru tujuh minggu, alat baru nempel perut, mata gue langsung fokus ke monitor, eh, little me nongol! Dokter belum ngomong, gue udah hahahehe duluan dan tepuk tangan. Pas dokter bilang hamdalah dan memberi tahu kalau sudah ada detak jantungnya, gue langsung melirik ke suami yang lagi senyum sumringah.

Alhamdulillah.. 
Ternyata little me kuat dan hebat nggak ketulungan! Padahal badan mumnya lagi berantakan nggak karuan. 

Ini peringatan buat gue yang masih wira wiri terlalu ngurusin kantor yang lagi nggak terkendali. Sekarang harus ingat kalau ada suami dan little me yang nggak bisa keterusan dicuekin berkali-kali. Hidup harus diseimbangkan kembali, susah senang harus tetap bahagia. Kayak harus kembali lagi ke kursi pilot untuk menstabilkan pesawat yang lagi hilang kendali. 

Sekarang, mau kemana kita, little me? Terus berdetak sampai waktu yang sudah ditentukan, ya.. gue sayang sama, little me. 






- Little Me Story, Part 1


Jacko!



Kehilangan sosok yang membuat gue selalu berpikir lebih gila dan bekerja lebih waras untuk menghasilkan karya yang maksimal sungguh sangat membuat hati ini kecewa. Kecewa pada diri sendiri yang nggak pernah sadar kalau hal ini pasti terjadi kapan pun. Kaget karena nggak berpikir akan secepat ini, hari itu waktu tiba di kantor dan mendengar kabar dari om Gio bahwa mas Bo sedang 'mengurus' di lantai delapan. Shock. Rasanya seperti lagi mandi dipancuran air yang segar tiba-tiba listrik mati. Gelap, nggak ada air, panik, hanya bisa terpeleset jatuh dan merasakan sakitnya dikegelapan tanpa melihat bagian yang terluka. 
Nggak mau menerima jabat tangannya mas Bo setelah turun dari lantai delapan, gue cuma bisa teriak didalam hati, cuma bisa manggil-manggil nama mas Bo. 
"Seharusnya gue senang, mas Bo, gue kan baru lulus kuliah. Kenapa harus kayak gini, sih, keadaannya?"
Pertanyaan itu terucap. Lebay, bisa dibilang seperti itu, tapi kalau kalian ikut merasakan dan tahu keadaannya, kalimat itu wajar untuk diucapkan. Gue nggak punya rasa percaya diri, hilang sudah rasa peduli, nggak punya kendali, hanya bisa menjalankan apa yang bakal ditinggalkan nanti.
Cukup lama untuk proses menerima keadaan itu, mas Bo pasti menyadari. Gue memilih untuk menyendiri mencari udara segar agar berpikir jernih dibandingkan nangis didepan mas Bo. 
Mengingat waktu itu.. 
Orang yang pertama kali gue lihat diruang interview, orang yang sangat tenang diantara dua yang lainnya, orang yang nggak gue sangka ternyata bakal jadi bos gue yang paling top. Bos yang kadang terlalu santai, bikin gue jadi kesel karena gue nggak terima tim gue diperlakukan nggak adil. Tapi mas Bo nggak pernah marah, kesel sih pernah walaupun tetap berusaha untuk tetap tenang dan berpikir positif. Iya, mas Bo EPos menurut gue, Energi Positif. Malahan gue yang terlalu banyak mengeluh di depan mas Bo. Maklum gue karyawan ababil, mungkin perbedaan level yang cukup tinggi dibandingkan gue yang membuat mas Bo lebih tenang untuk menghadapi segala bentuk tantangan yang datang setiap minggunya. Gue yang selalu izin ini itu karena jadwal kuliah yang kadang barengan sama deadline kantor, mungkin mas Bo udah khatam. "Santai, ta, santai, yang penting kerjaan kamu kelar," selalu begitu jawabannya. 
Sekarang...
Mas Bo sudah nggak lagi duduk di samping gue, kubikel jadi sepi tanpa lagu-lagu Koes Plus dan suara nyanyian mas Bo yang khas. Nggak ada lagi cerita aneh dengan tiruan gaya bersemangat, kayak gaya tukang bubur yang terkenal itu, baso seseupan, sampai gaya sholat orang yang berbeda-beda. Mas Bo sangat terkenal sebagai penengah, rasanya kalau kantor lagi rusuh dengan masalah ini itu, nggak tenang dan belum lengkap kalau mas Bo belum angkat bicara. Bapaknya anak-anak HAI, walaupun mas Bo yang sudah dewasa ini nggak mau dipanggil bapak. Orang yang bisa bikin anak Hai bayar seribu kalau ngomong jorok. Orang sudah dikenal banyak orang di gedung jalan panjang. Setiap gue ketemu orang dari unit lain, pasti yang ditanya kabar mas Bo. Agak sedikit sedih, bukan karena gue nggak ditanya, hanya saja mengingat kenapa mas Bo harus meninggalkan kantor bukan cerita yang menyenangkan. 
Banyak cerita yang nggak mungkin gue tulis semuanya disini, semua orang tahu kalau mas Bo orangnya baik.
Gitu saja, sih.. mungkin gue lagi kangen sosok mas Bo dikeadaan seperti ini. Tulisan ini sudah mengendap lama diponsel dan akhirnya diposting juga. Gue hanya bisa mendokan yang terbaik buat semuanya, buat mas Bo juga, yup.. Bapak Joko Prayitno, pemilik Enda Endo. Hehehe.. 


Good luck! 

Tuesday, October 14, 2014

The Beginning

Sudah nggak terhitung berapa lembar kertas yang gue pakai untuk buat tugas dan ujian. Sudah nggak terhitung berapa banyak waktu yang gue gunakan untuk kuliah disela kerja. Sudah nggak terhitung berapa lama gue pakai internet untuk browsing ini itu membantu segala macam tugas kuliah. Sudah nggak terhitung berapa banyak muka yang gue liat selama muter-muter kampus.

Sebenarnya gue nggak mau hitung-hitungan apa yang sudah gue jalani. Untuk mimpi besar seperti ini, nggak sedikit usaha dan tenaga yang dikeluarkan demi menyelesaikan apa yang sudah dimulai. Apa yang bisa diharapkan dan dibanggakan sebagai mahasiswa yang juga bekerja?

Awalnya, sih, gue nggak kepikiran untuk jalanin keduanya dalam waktu yang bersamaan. Melihat keadaan deadline kantor yang selalu ada setiap minggu, lalu gue memakai waktu libur gue untuk meneruskan gelar yang belum tahu fungsinya untuk apa. Keinginan terus belajar selalu ada dihati, lalu apa yang menguatkan gue untuk menjalani kehidupan yang mungkin menurut orang "cape-capein diri sendiri"?

Ini mimpi gue untuk bisa melanjutkan jenjang pendidikan dengan usaha sendiri walaupun diawal semester gue terseok-seok untuk hidup, apalagi ditambah dengan bayaran setiap semester dan tugas yang menyita dompet. Ini kenyataan, bukan untuk dikasihani. Ini usaha yang sudah gue lakukan selama empat tahun belakangan ini. Merasa hebat? Pastinya. Gue bisa melalui ini dengan berbagai usaha, rasa, dan suasana. Sombong? Nggak, dong. Mungkin ini bisa menjadi dorongan buat teman-teman diluar sana yang sedang menjalani hal yang sama dengan gue. Nggak cuma kuliah, mungkin hal lain yang harus dijalani dalam waktu yang bersamaan. Ini bukan hal yang mudah, hanya orang yang memandang sebelah mata yang berpikir hal ini mudah. Ini masalah perang dengan diri sendiri, banyak perasaan yang bertentangan dan membutuhkan kecepatan untuk mengambil keputusan. Mungkin dapat mengikis kebiasaan menunda, juga sedikit 'batu' karena satu dan lain hal.

Ini bisa terjadi, gue nggak nyangka setelah selesai membuat laporan kerja praktik, dosen mengajak untuk menunda libur, langsung mempercepat proses untuk menyelesaikan tugas akhir. Percaya nggak percaya, dari kepercayaan diri tingkat dewa, terseok-seok, tenggelam dalam alam sadar, terjerumus kekubangan, lemparan bola liar sampai akhirnya terpaksa untuk melonjak ke puncak gunung tertinggi dari dunia planet pluto, gue bisa menyelesaikan dengan hasil yang maksimal. Maksimalin tenaga dan waktu walaupun tabungan menjadi minim.

Minim percaya diri sempat membawa gue terbawa arus tapi banyak perpanjangan tangan dan lebarnya mulut yang membangun semangat secara perlahan. Ingat orang tua juga yang menantikan acara wisuda. Gue juga menunda untuk menantikan datangnya si buah hati demi mempercepat kembalinya kestabilan hidup gue, mengurangi lapisan kesibukan.

Dua bulan terakhir merupakan dua bulan tercepat dalam hidup gue. Persiapan karya untuk tugas akhir yang baru bisa dikerjakan mulai dua minggu terakhir. Hasilnya? Seperti ini.



Buku ilustrasi "Toi.let" karya Freska Paramita


Bangga sama diri gue sendiri. Waktu yang singkat untuk prosesnya hingga menjadi buntelan salah satu diluar impian gue. Hasil karya yang nggak cuma mengendap difolder komputer, nggak cuma dipajang diblog, nggak cuma digeletak setelah semuanya selesai. 

Semoga jalan makin diluruskan, hanya berserah diri kepada-Nya, Yang Maha Segalanya.

Sekarang semuanya sudah selesai, tinggal menantikan tanggal, saat gue memakai jubah hitam dihadapan Mama yang bakal bangga sama anaknya yang berjuang cukup lama. Sepenggal obrolan ditelepon yang bikin mata banjir sehari sebelum gue maju sidang, "Baca doa, semoga lancar. Kuliah berjuang sendiri, selesai juga yaa.. mama cuma bisa bantu doa." Memang, belakangan ini lagi jarang pulang kerumah, demi kejaganya badan, selesainya hasil karya, dan beresnya urusan ini itu di kampus. Egois.. sangat egois. Melewatkan beberapa kali kumpul keluarga. Mau bagaimana lagi, cuma itu caranya karena waktu menjadi sangat berarti demi selesainya kuliah ini.

Bersama teman-teman seperjuangan melewati badai tugas akhir ini, dari yang cuma ketawa ketiwi baru kenal sesama mahasiswa baru, berkembang menjadi jumpalitan bikin tugas, mondar-mandir kepercetakan, pulang kantor ke kampus jam malam, sampai akhirnya bisa menyelesaikan semuanya pada waktu yang bersamaan. Salut gue untuk teman satu angkatan, DG#17,  yang tetap bertahan untuk terus berjuang hingga titik terakhir. Keadaan memang menentukan segalanya, syarat yang berbelit nggak seharusnya memutus semangat, walaupun angkatan kami terbagi dua sesi, waktu yang singkat ini nggak akan terasa berat. Semuanya, harus tetap semangat! 



Terima kasih banyak atas segala bentuk dukungannya.

Sujud syukur untuk Allah SWT yang telah memberikan kekuatan untuk melangkah, tanpa izin-Nya, gue nggak bisa apa-apa. Doa Mama juga pasti didengar karena gue yakin doa seorang ibu untuk anaknya adalah doa yang paling didengar oleh-Nya. Papa yang masih suka telepon dari laut menanyakan kabar, ucapan selamat yang gue terima melalui ponsel bikin hati gemetar. Terenyuh juga dengan kelakuan suami yang diam-diam bikin pengen nangis, kebaikannya yang nggak ketakar kadang bikin kejutan. Komit dengan ucapan yang dilontarkan sebelum kami menikah, semuanya yang dijanjikan untuk terus mendukung sampai berakhirnya kehidupan perkuliahan ini. Mama Dani yang mungkin bingung dengan kelakuan menantunya yang diam-diam suka pulang pagi, berangkat kerja kesiangan, dan melihat kamar yang berantakan. Mama Dani yang selalu bilang mendoakan kami berdua untuk selalu mendapatkan yang terbaik. Semoga semua kemudahan dari dukungan dan doa ini terus berlanjut sampai gue disadarkan untuk selalu bersujud. Nggak lengkap kalau belum menyebutkan Ayah, Bunda, Mama Ninik, Bapak Daddy, Mamoy, Papoy, Avis, Aii, Mba Jean, Julian, dan keponakan yang selalu bikin gemes, yang selalu berisik digroup ngobrol banyak. Terima kasih banyak.

Teman seperjuangan tugas akhir, Ika, Debby, Narti, Bimo, Adin, Gaby, Ogi, Andria, yang terus semangat dari ngebut bikin karya untuk sidang sampai mendapatkan selembar kertas keterangan pengumpulan tugas akhir, kalian hebat, gue salut sama semangat kalian! Ikan, Deboy, Mba LunMay, aylafyuh. Sidang percepatan ini memang membuat gue makin gila, sudah nggak tahu harus berbuat kayak gimana. Sensi tingkat dewa, kurang dan kadang kebanyakan tidur, diam sunyi senyap, guling-gulingan dikasur sampai ke Bekasi, izin ini itu, dan ngeribetin sana sini. Keberadaan kalian diwaktu yang gawat masih tetap bikin tertawa. Hal ini yang membuat semua yang harus diselesaikan menjadi lebih ringan. Mayson yang nggak ikutan tugas akhir juga rajin membantu ranger DG#17 lainnya, mukanya sangar tapi hatinya berbinar. Dukungan dari chit chat digroup DG 17 yang doyan banget becanda, nggak pernah pupus. Kalian yang segera menyusul, Ican, Dwi, Andre, Djarwo, Dado, Tebe, Reza, Bray, Ismail, dan teman lainnya, terus maju pantang mundur. Badai tugas akhir pasti berlalu. Good luck buat kita semua.




Para dosen yang pusing juga dengan sidang percepatan ini ditambah dengan kelakuan kami yang selalu terburu-buru minta ini itu. Pak Lukman, dosen pembimbing gue yang paling sabar sangat membantu mempercepat segalanya, termasuk membantu sistematika penulisan laporan dalam hitungan hari yang bikin gue mumet dengan tulisan dan settingan di Ms. Word. Pak Hady sebagai Kaprodi yang selalu tenang membawa suasana menjadi aman, walaupun gue tetap deg degan. Deretan dosen penguji yang memberikan banyak masukan untuk kebaikan karya kami kedepannya dan harus pulang malam di tanggal 6 Oktober 2014, Pak Afiq, Pak Agus Budi, Pak Joko, Pak Denta, Bu Ariani, Pak Agus Nursidhi, Pak Ali... Terima kasih. Staff TU, BAK, BAA, terima kasih atas kesabarannya.

Gue izin, gue cuti, gue izin, gue telat, cuma mas Bo yang paling sabar sama kelakuan gue belakangan ini, dia selalu diposisi sebagai orang yang paling pengertian, walaupun kayaknya kesel karena gue mulai nggak fokus sama kerjaan. Maafkan juniormu ini, selalu nyusahin dan bikin bingung, cuma mau memisahkan antara kerjaan dan kehidupan gue yang lain, demi seminggu kepala melintir menyelesaikan segalanya. Mas Danie yang panik saat gue minta izin untuk fokus ke tugas akhir ini, akhirnya bisa nyengir lagi saat hasil sidang gue sudah diumumkan. 86, mas! Gue juga nggak minta bantuan macam-macam sebelum sidang karena gue tau keadaan kantor seperti apa, cukup sebuah dukungan beberapa jam sebelum gue sidang dari rekan kerja di redaksi, Mas Yorgi, Mate, Dosir, Uwie, Niken, Ega, Fikar, Wahyu, Bang Gats, mas Budi, Om Daus, Mas Ilham, Agassi, Gita, Rian, Zaki, Sobri, Prana, Mas Ryo, Satria, Runi, Rama, Alvin, Mas Imam, Bang Frans. Terkejut? Ya begitulah. Terpaksa hari H cuti, mungkin menjadi harus ketika gue berpikir ini hari penentuan gue setelah empat tahun menjalani ini. Semangat bikin karya juga semakin meningkat ketika penulis ternama Edi Dimyati mengajak "kencan" dengan penerbit besar di Jakarta yang kemudian membuahkan hasil yang maksimal, terima kasih dari bumi ke langit, Mas Edi dan Mas Ketut. Selain ilustrator handal, Om Gio juga menawarkan bantuan untuk menulis makalah, gue malah bingung karena gue juga buta banget kalau disuruh nulis yang baku. Tapi tulisan abstrak gue dibantu translate sama guru bahasa Inggris, Bung Adhie. Terima kasih atas dukungannya.


Eris lele, Tante Yudieth.. Kalau waktu itu nggak jadi ketemuan, mungkin gue sudah terpuruk. Oke gue lebay, thank you so much buat malam itu walaupun gue sempat berfikir beruntungnya gue masih bisa ketemu kalian setelah mendengar kabar mengerikan itu. Terus ketemu, update kabar, gue nggak mau kehilangan kalian! 


Untuk semua yang memberi respon email gue, banyaknya pertanyaan yang dijawab dan share cerita yang unik dan absurd mungkin sedikit menyusahkan juga membingungkan temanya, tapi hasil karya gue jadi punya alasan karena jawaban kalian. Ini serius, eh gitu deh, Kadek, Atha, Adnan, Aa Boniex, Hans Kotaro minami, Indah. Hey kalian juga Bebek Joko ladies, Chitra, Mpokgaga, Ajeng, yang punya cerita absurd tentang toilet, makasih banyak, kuliah gue kelar coooooy.. traktir gue udon dong, *eh.


Sidang selesai membawa gue ke lapangan futsal lagi di gedung pentagon Palmerah Selatan, sama tim futsal putri GOM, dua pertandingan gue cuma dapat dua gol di pertandingan pertama. Mungkin benar-benar gol pelampiasan, satu gol "tendangan setelah menikah" dan satu lagi gol "tendangan setelah tugas akhir" istilahnya. Thanks, gals atas dukungunnya, tiga kali latihan sekip terus. Final match juga nggak bisa gabung karena harus beresin laporan sama dosen. Coach Adit, terima kasih banyak sudah mau jadi pelatih cewek-cewek tangguh ini, juga kesempatan yang dikasih buat keringetan cantik di lapangan.


Banyak dukungan, banyak bantuan, banyak orang yang gue ajak ngomong demi menenangkan pikiran. Nggak cuma suami, tukang gado-gado depan kantor juga gue ajak ngobrol. Bukan cuma bantuan ngerjain semua tugas, belajar dan dengar cerita dari orang yang semangatnya menggila bikin gue sadar dan paling nggak bikin gue terpacu untuk ikutan semangat. Beberapa kali menepis energi negatif, demi terkumpulnya energi positif.

Terima kasih untuk orang-orang yang terlibat dalam proses pengerjaan tugas akhir gue. Dari suami, keluarga, sahabat terdekat, teman-teman, rekan kerja, operator cetak, tukang ojek, supir taksi, supir angkot, supir bis, sampai yang memberi selamat setelah gue lulus sidang. Terima kasih atas pengertian dan perhatiannya. Maaf jika ada salah kata yang terucap maupun yang tertulis.

Semoga semua bahagia, semua sehat.

Salam dari sarjanawati. Hehehe..

Cheers!


Saturday, September 20, 2014

a glass of water

Langkah sederhana yang lagi gw jalani belakangan ini cuma minum air putih delapan gelas per hari. Nggak ekstrim sampai harus makan sehat yang rebus-rebusan, tanpa garam, mengurangi nasi atau diet yang beragam itu. Dulu sempat, sih, kepikiran untuk diet golongan darah, gara-gara liat David Bayu datang ke kantor badannya beda banget kalau dibandingkan awal-awal dia muncul. Tapi kalau melihat badan gw yang kerempeng ini udah nggak perlu diet yang berlebihan, yang penting hidup sehat  dulu.

Kenapa gw mulai disiplin minum air putih delapan gelas per hari?
Sadar diri ngeliat kulit gw yang semakin kering dan kepala sering pusing, lebih tepatnya mungkin migrain. Dulu, setiap gw mulai merasa pusing atau ngga enak badan, kakak gw nggak pernah menyarankan untuk minum obat, dia selalu bilang minum air putih yang banyak, makan yang banyak, dan istirahat. Mungkin badan gw juga kaget kalau tiba-tiba ada air masuk ke perut banyak banget, sering enek kalau minum banyak dan suka maksain minum nggak berenti satu botol. Sudah pasti yang berlebihan itu nggak baik, kan? Kalau kesadaran minum air putih itu perlu sudah lumayan sadar, sadar kalau kepala mulai pusing. Sempat membeli tempat minum yang besar untuk ditaruh di meja kantor sebagai pengingat untuk minum air putih yang banyak, ngga terlalu berjalan lancar, selain tempat minumnya sempat hilang (dan ternyata rusak nggak tahu dicuci sama ob yang mana) pola pikir gw jadi berbeda, jadi seperti gw harus menhabiskan air di tempat minum yang besar itu yang sebenarnya nggak bagus juga untuk kesehatan kalau minum terlalu banyak.

Alasan lain, ada iklan sebuah air mineral, sebut saja AQUA *eh, yang mengajak untuk minum delapan gelas per hari, lumayan mengingatkan diri, sih, karena itu memang yang dibutuhkan oleh tubuh. Mulailah gw browsing yang berhubungan dengan air itu, sampai pada akhirnya gw menemukan riset perbedaan wajah sebelum dan sesudah minum air putih secara teratur. Nggak mau muluk-muluk sih yang penting rajin minum air putih, ambil air minum ke dispenser menjadi alasan untuk bergerak agar nggak kelamaan duduk di meja kerja. Banyak yang memberi saran untuk membeli botol besar yang bisa menampung air sesuai kebutuhan setiap harinya, menurut gw, orang seperti gw yang lebih banyak duduk di depan komputer cara itu malah membuat gw nggak bergerak. Biarkan gelas kosong, dengan demikian gw sadar untuk jalan mengambil minum, kalau perlu isi satu gelas, duduk di dekat dispenser, habiskan secara perlahan sambil mengobrol sama teman yang lain, nah, sebelum kembali ke meja kerja isi gelas lagi untuk diminum diwaktu berikutnya. Setelah beberapa minggu gw rutin menjalani ini, sudah nggak pernah lagi merasakan sakit kepala ataupun migrain, mau lagi deadline atau kerjaan maupun pikiran numpuk sekalipun. Mungkin karena hidup itu harus seimbang, nggak cuma gara-gara air saja, ibadah juga harus disiplin biar hati dan pikiran adem, hehehe.


Ilustrasi sederhana ini gw buat untuk mengingatkan teman-teman yang masih jarang minum air putih setiap harinya dan untuk teman-teman yang malas mengangkat pantat dari kursi untuk mengambil air minum. Merangkum dari sebuah film yang mengatakan bahwa wanita itu terbagi dua warna, biru dan merah muda karena keduanya harus seimbang sehingga mereka dapet bersenang-senang. Gw cuma mengingatkan satu gelas air putih, sisanya biar kalian yang mengingatnya.

#mencoba_sehat #mencoba_mengerti_tubuh

Semoga bersemangat!


Tuesday, September 16, 2014

Butuh Kalimat

Sedikit pembuka untuk melanjutkan segala kata-kata yang harus disampaikan sebelum Oktober 2014 tiba. Ketika memilih, terkadang pertimbangan saja tidak cukup, perasaan juga menjadi pengaruh yang cukup besar. Segala macam ingatan yang terkandung didalamnya menjadi faktor, namun harus memilih salah satu faktor utama yang digunakan untuk menjadi senjata. Kebiasaan saja tidak cukup, harus mencari beberapa faktor pendukung untuk menjadikan alasan yang kuat demi terbangunnya sebuah kalimat.

Kalimat, hmm... seperti, "Aku suka kamu karena aku tahu kamu suka aku tapi kamu nggak berani bilang." yaa.. kalimat yang jelas, beralasan, dan nggak bisa diganggu gugat, mungkin juga membuat tercengang sebentar. Sama kayak artikel semalem yang dibaca, ngga cuma memuji anak, tapi berikan juga alasan kenapa mereka dipuji, agar mereka tahu apa yang mereka lakukan.

Ini mulai meracau. Ayo cari kalimatnya.



Monday, May 26, 2014

Ruangan Tenang Terang Benderang

Lari dari kenyataan, sikap yang kurang jantan memang. Istilah tersebut mulai sering gw pakai karena keadaan, yaa.. keadaan. Mau apa pun keadaannya, ketika kepala mulai terasa penuh ada baiknya untuk dikosongkan sementara. Bukannya untuk menghindar tapi menenangkan pikiran sebelum mengambil langkah yang kemungkinan akan merugikan banyak pihak. Diam bukan berarti tenang, diam bukan berarti emosional. Terkadang diam menjadi cara yang ampuh untuk berpikir dan bergerak lebih cepat.
Sebagai seseorang yang beragama lari dari kenyataan sama seperti beribadah, lari dari keadaan untuk lari mendekat Yang Maha Kuasa. Setiap orang pun punya cara masing-masing untuk menenangkan isi kepala dan hatinya.

Kayak gw belakangan ini, cerita ke teman bukan lagi jalan keluar. Gw sudah punya pasangan hidup yang bisa jadi segalanya, bisa membantu gw untuk mengambil keputusan dan mempertimbangkan segalanya. Ketika gw ragu, masih ada kakak-kakak gw yang pengalamannya jauh lebih asin daripada garam kehidupan gw. Ada Mama Papa yang selalu mendoakan yang terbaik untuk anaknya.
Weekend ini, gw mencoba untuk menjauhkan pikiran gw dari berbagai macam bentuk kerjaan kantor yang mulai menghantui. Pegel juga weekend belakangan ini dihantui kerjaan kantor, padahal disekitar gw juga butuh untuk dirangkul, keluarga terutama, apalagi ditambah melihat tugas kuliah gw mulai terbengkalai.

Duh, Ta.
Iya aduh, harus lebih ketat lagi to do list-nya.
Restart kepala, lakukan apa yang membuat gw tenang, senang, dan mengembalikan mood yang seminggu ini hilang. Kembali ke keluarga, ke rumah untuk melihat keadaan Mama Papa, melakukan lagi kebiasaan gw di rumah dulu, dari jajan pecel, rujak, sampai tiduran di genteng. Melihat orang-orang disekitar yang gw kenal, tukang es dung-dung yang sering becanda sama gw dari jaman SD, tukang rujak yang makin tua tapi masih dorong gerobak dan jualan dengan harga yang masih sangat murah. Menyebrang ke swalayan ditemani sama Bukhori, yang dari dulu rajin ngatur lalu lintas pertigaan depan komplek.

Semacam terapi semua baik-baik saja.

kaget plus seneng, diujung ada pelangi.

Ruangan tenang terang benderang itu selalu ada di atas rumah, selalu tersedia kapan pun gw mau kesana. Tinggal taruh tangga bambu Papa mendekati genteng lalu naik. Tiduran melihat langit tenang, ditemani angin kencang.

Melepaskan semua rasa, perasaan, dan pikiran yang selama ini mengotori otak kanan kiri dan hati.

yay!

Saturday, May 24, 2014

Alam Bawah Sadar

Mimpi sudah biasa, coba deh kalau lu lagi kepikiran sesuatu kadang bisa kebawa sampai mimpi. Kayak istilah orang-orang kantor, mimpi dikejar-kejar kerjaan atau mimpi yang berhubungan sama kerjaan kantor, berarti udah into it sama kerjaan. Serius lu? Fase ini gw udah lewat, sih. Biasanya setahun menuju dua tahun bekerja, mungkin saat-saat itu lu udah mulai merasa 'memiliki' atau bertanggung jawab sama kerjaan lu sampai-sampai kebawa mimpi. Walaupun sebelum tidur nggak kepikiran sama sekali, kalau udah meresap ke otak, gimana nggak kebawa mimpi? Gw dulu pernah mimpi nge-layout sambil ditungguuin AE yang teriak-teriak minta cepat diselesaikan. Pernah juga mimpi sama orang-orang redaksi jalan-jalan santai tapi akhirnya dibubarin karena harus balik lanjut kerja. Sampai pernah bangun panik karena takut telat rapat redaksi, padahal itu hari Minggu!

Nah, di fase sekarang ini yang agak aneh dan membuat Oscy komentar minggu ini karena kelakuan gw saat tidur. Menuju hari Senin gw nyanyi sambil tidur, padahal gw sangat yakin kalau gw nggak mimpi sama sekali dan nggak merasa nyanyi walaupun cuma ber-humming. Menuju Selasa, gw di rep-repin, (bukan nge-rap ya) istilah yang digunakan kalau lu nggak bisa bangun dari tidur, katanya ketindihan setan, rasanya kayak badan berasa kaku, mata mau melek tapi nggak bisa, udah nyoba teriak tapi orang yang ada disebelah lu kayak nggak denger, begitu kira-kira penjelasan keadaan kalau di rep-repin. Istilah kerennya Sleep Paralysis. Selain badan kaku pas menghadap samping, saat itu ada yang "memegang" tangan gw, karena gw kesel jadi gw berusaha untuk memegang balik tangan yang megangin gw dan berusaha untuk melihat siapa yang megangin tapi nggak berhasil, teriak-teriak manggil Oscy juga nggak bangun-bangun, yang ada gw kecapekan lalu bangun kemudian. Menuju Rabu, begitu juga, kali ini tangan gw kayak diiket ke atas dan nggak bisa gerak, badan gw kaku. Aneh, memang aneh rasanya kalau di rep-repin, kadang kalau diperhatikan bisa jadi muncul sosok yang nggak diinginkan (baca: makhluk halus). Menuju Sabtu setelah menyelesaikan deadline di kantor, bangun tidur Oscy nanya, "Tadi kamu ketawa, kenapa?" dan gw bingung malah jadi ketawa berdua. Ketawa gw kayak orang nonton TV kata Oscy, tapi yakin banget kalau tadi malam gw nggak mimpi apa-apa.

Kalau kata orang-orang kantor, "Mungkin dia lelah." Hehehe...

Mudah-mudahan nggak sampai tidur sambil jalan menuju kantor saja tengah malam.



Bahasamu

Dear Mama Papa,

Rasa sakit memang nggak mudah dihilangkan, setiap mengingat kejadian demi kejadian rasa sakit makin terasa. Rasa yang nggak bisa dirasakan orang lain bisa dirasakan ketika kita sendiri yang merasakannya. Mungkin hal ini juga berhubungan dengan perasaan, karena nggak semua orang mengerti, nggak semua orang yang setiap hari bertemu dapat memahami. Manusia diciptakan nggak sempurna, pasti ada kekurangannya.

Kali ini terulang lagi, mungkin keadaan mama jadi salah satu bentuk peringatan yang mengingatkan untuk selalu dekat dengan-Nya, selalu dalam lindungan-Nya. Berusaha untuk terus meminta kepada-Nya, sekali waktu pasti didengar.

Ingat cerita waktu kita di kamar rumah sakit? Tawa mama menenangkan perasaan, karena ketika mama masih bisa becanda walaupun dalam keadaan sakit, tawa itu mempunyai arti yang menyenangkan. Waktu mama lagi nggak bisa jalan, eta di dapur masak, mama di kamar memandu lewat telepon. Menemani papa yang terdiam setelah sholat, menahan sakit dikakinya. Bercanda ketika memperhatikan kaki papa kanan dan kiri besarnya tidak sama. Berbeda waktu kita ada di kamar mama, ketika mama dan papa pernah bilang kalau mama dan papa sudah nggak kuat lagi, dengan keadaan tanpa senyum diwajah mama dan papa, cuma air mata yang bisa menetes walaupun nggak diinginkan.

Beberapa cerita lalu ternyata bisa membuat sendu, usia mama pun sebentar lagi bertambah. Kemarin, kata sakit yang diucapkan mama lirih setelah berobat, berarti sangat berbeda. Mungkin bisa menjadi sakit yang berkali lipat, karena mama nggak pernah mengeluh walaupun kami tahu kalau keadaan mama yang sesungguhnya. Sebagai anak, merasa sangat bersalah ketika hanya berdiri di ruangan kantor, mendengarkan kabar dari telepon. Kami tahu rasanya disuntik, tapi untuk suntik yang satu ini, rasa ngilu bisa ikut terasa sampai sebadan-badan.

Yakin semua orang tua nggak ingin menyusahkan anaknya walaupun terkadang anak yang suka menyusahkan orang tuanya. Di usia sekarang ini, mulai terasa berat mengenang semua yang sudah dilakukan oleh mama papa untuk membesarkan anak-anaknya. Hanya doa untuk kesehatan mama papa yang selalu diucapkan disetiap permintaan.

Mungkin keadaan akan selalu berubah tapi sebagai anak mama papa, Dia akan selalu mengetahui keadaan yang terbaik untuk orang-orang yang gw cintai.


Love,
Anak-anakmu

Thursday, May 8, 2014

Capture

Pasar ini selalu ramai seperti biasanya, seperti mempunyai magnet yang mampu menyeret orang-orang dari belahan bumi bagian mana sekali pun. Antrian mobil panjang bergantian menunggu tempat untuk parkir. Orang-orang berlalu lalang dari pelanggan hingga penjual turun ke tengah jalan. Ingin beli ini, ingin beli itu. Semuanya seperti meminta untuk dibeli, warna cerah, suara meriah, seperti tak kenal panas maupun hujan, para penjual selalu semangat menawarkan dagangannya.

Melewati lagi panjangnya antrian mobil, gw dan dua kakak gw jalan menuju tempat penjual bahan tekstil yang berada diujung keramaian. Kakak gw sibuk memilih, gw bosan tapi siap untuk memutari toko itu dengan kamera ditangan. Banyak objek menarik, sampai-sampai gw mencapai lantai teratas toko itu.

Menarik.

Ujung tangga itu masih ditutupi atap, beruangan kecil dengan toilet dibagian pojok. Di depan toilet terdapat pintu keluar atap tak beratap. Banyak pegawai yang sedang menjemur kain-kain basah yang terkena bocoran air hujan. Objek yang nggak boleh dilewatkan momennya, tali terbentang dari ujung ke ujung, kain berwarna-warni yang tertiup angin. Ah, bersyukurnya gw diberi kesempatan untuk bisa melihat ini lebih tinggi, dari undak-undakan yang berada diujung atap.

Capture. Done.

Melihat hasilnya dilayar kamera, terdiam sejenak melihat indahnya foto-foto hari ini. Mulai dari foto gila-gilaan dimobil sama dua kakak yang sama gilanya, sampai foto sok art dengan objek-objek yang nggak biasanya gw temui setiap harinya.

Ya, gw suka sekali sama hal-hal baru dan menangkap momen itu.

Dorr.

Mata gw terbelalak, teriakan orang-orang mulai terdengar dari berbagai sudut, hampir saja æmenjatuhkan kamera. Menengok perlahan ke belakang. Dari ketinggian dua lantai gw melihat seseorang warga negara asing berpakaian rapi menembak orang disekitarnya dan gw melihat dia menembak dua orang lagi. Oh, dengkul gw gemetar, baru disadari kalau disebelah toko itu rumah duta besar sebuah negara. Tercengang, nggak sengaja bertatapan mata dengan penembak itu, gw langsung jongkok. Satu tembakan ditujukan ke arah gw.

Sial.

Kamera masih gw pegang, dari undak-undakan gw mengusir para karyawan yang lagi panik juga untuk mengosongi atap ini. Ini hal baru tapi gw nggak akan merekam objek ini. Terdengar kalau penembak itu minta diambilkan sebuah tangga, gw turun dari undak-undakan, menuju pojok berharap menjadi blind spot kalau-kalau kepala penembak itu muncul dibalik tembok. Benar, kan, dia mencari gw! Mencuri kesempatan kearah tangga untuk turun atau mengumpat sejenak di toilet atap. Siap untuk sprint, setelah dia menengok ke belakang. Terasa sangat jauh kalau lari dalam keadaan seperti ini. Sampai dipintu, gw bergegas masuk ke dalam toilet untuk menenangkan diri sejenak, sengaja nggak menutup pintu.

Gw butuh udara dan supaya nggak disangka tempat sembunyi.

Akhirnya tenang, nggak lagi mendengar suara terikan penembak itu maupun orang-orang yang ada di pasar. Mencoba untuk turun dan mencari kakak gw, toko itu sudah sepi, mungkin sudah dievakuasi sama polisi setempat. Keluar dari toko, mengambil ponsel mencoba menghubungi kakak. Nada sibuk. Mencoba lagi dan lagi.

Gw tersadar, pasar ini terlalu sepi.

Keringat mengucur, punggung gw basah. Mencoba naik lagi ke atap, mungkin gw bisa melihat kakak gw dari ketinggian. Penasaran muncul, coba mengintip ke rumah penembak. Sudah sepi, korban-korban yang tergeletak pun sudah nggak ada. Gerak cepat sekali penembak itu. Berlari ke pojok, melihat-lihat ke jalan pasar dan nggak juga menemukan kakak gw. Menelusuri pinggiran atap, sedikit tergelincir, mungkin air hujan atau semen yang berlumut. Menunduk, lalu jongkok.

Ini sih darah.

Menelusuri ceceran darah itu hingga pintu toilet. Melihat hal baru ini, gw jadi yakin nggak akan menemukan kakak-kakak gw, paling nggak, gw menemukan diri gw sendiri. 


Masih mau lanjut baca cerita dari mimpi gw yang lain? ini listnya:

Labirin antara hidup dan mati.
Tempat istirahat terakhir.
Syal merah saya.
Lagi-lagi langit marah.

Semoga mimpi indah!



Saturday, April 19, 2014

Kebahagiaan Datang Kesengsaraan Pergi


Long weekend diawali dengan deadline maju, seperti biasa gw dan redaksi HAI full speed untuk menyelesaikan 95% pekerjaan. Belakangan ini dan sebulan kedepan mungkin akan seperti berlangsung seperti ini kalau dilihat lagi dari kalender yang berwarna warni. Siap ngga siap memang keadaannya seperti ini.


Foto ini gw bikin untuk menyambut long weekend.

Setelah dipikir-pikir, sudah berjalan lima tahun setiap menjelang weekend anak-anak HAI, gw jumpalitan menghadapi deadline, dalam artian kadang senang, kadang nggak. Memang semuanya sudah dibatasi oleh waktu dan berlangsung secara terus menerus, rutin. Kalaupun terputus, itu kayaknya juga nggak mungkin, sih. Demi pembaca tersayang.

Silih berganti juga badan tumbang lalu bangkit lagi, kuatnya anak-anak HAI bakal jadi bekal kuat fisik buat kedepannya. Saling menopang satu sama lain, back up sudah menjadi tanggung jawab masing-masing. Hebat? Mungkin bukan kata yang tepat, super bisa mendekati, mungkin kami mutan yang dikumpulkan oleh Prof. X secara diam-diam. Gila sudah biasa, bisa jadi sebuah keharusan. Kegilaan kadang jadi awalan lompatan terindah untuk berkreasi menghiasi halaman.

Kalau lagi sakit yaa begini, ini, banyak bicara, makanya kesempatan ini gw pakai untuk berbagi kesenangan redaksi, biar penyakit yang lagi nebeng di badan gw ini pergi.

Jadi, dari minggu kemarin, bertahan untuk nggak sakit, menjadi semangat demi lancarnya menyelesaikan pekerjaan sebelum weekend. Vitamin, makan ini itu, ketawa ketiwi sudah menjadi asupan setiap hari. Tapi memang badan ini nggak bisa dibohongi, virus juga tahu titik lemah antibodi. Aku pun lagi menstruasi, kepala kena rintikan hujan tak tahu diri akhirnya pusing sendiri. Ini jam empat dini hari, belum bisa terlelap, baru saja melahap obat.

Mungkin gw sakit karena terlalu senang.
Senang yang berlebihan kayak yang terlihat difoto-foto redaksi saat-saat deadline ini.


Menjelang tahun baru 2010, selesai nggak selesai harus dikumpulkan.


Kalau lagi deadline majalah yang satunya. Bikin yang seger-seger biar deadlinenya makin seger.



Habis terang lalu gelap-gelapan.








Dua pekan terakhir. 

Asik yaa?

Demikianlah kiranya keadaan anak-anak kalau lagi deadline, makanya belakangan ini gw sengaja mengabadikan momen bersejarah untuk bisa diceritakan kembali ke anak-anak HAI dimasa yang akan datang.
Semoga kebahagiaan datang, penyakit di badan semuanya pergi.

Rutinitas.
Loyalitas tanpa batas.
Totalitas!

Salut.