Thursday, August 27, 2009

Biar Tuhan Yang Balas


Pernah terucap oleh seseorang yang menganggap dirinya disalahkan, menjadi sebuah objek yang ngga patut menjadi contoh yang baik, dan merasa dirinya sudah berbuat baik kepada yang lain.


"Biarin aja, saya sudah berbuat baik sama kamu tapi kalo saya salah, yaa saya minta maaf. Mungkin saya bukan orang yang baik walaupun saya sudah berusaha. Kamu itu cuma anak kecil yang ngga ngerti apa-apa, suka mikir yang aneh-aneh. Terserah kamu mau mikir apa tentang saya! kamu mau jahat sama saya silahkan. Tuhan tau mana yang benar mana yang salah. Kalau kamu begini terus, biar Tuhan yang balas!"


Kenyataan menjawab.. ngga, gw ngga melihat sebuah kebaikan dan Tuhan ngga membalas.  


Sebaik-baiknya orang berfikir dan berperilaku baik terhadap orang lain pasti ada tujuannya, entah itu baik maupun buruk. Ngga mungkin orang berbuat baik tanpa memikirkan tujuan. 


Sekarang ini, hal-hal yang terucap untuk sebuah kebaikan cuma omong kosong, mulut yang berbicara, hati berontak, berakhir dengan keterpaksaan untuk berbuat baik. Hanya perasaan yang bisa menilai orang itu ikhlas berbuat baik atau tidak.


Cobalah benar-benar berbuat baik terhadap orang, memaksakan diri bukan jalan keluar. Apakah 'membalas kejahatan dengan kebaikan' suatu kalimat yang bisa meluluhkan hati orang? tok.. tok.. tolong diperlihatkan. Dinilai gagal kalau merasa capek melakukan itu.


Kita dilahirkan bukan sebagai manusia super, Superman aja melawan kejahatan dengan kekuatannya bukan kebaikannya, dorongan hati untuk melindungi orang lain. Itulah yang disebut kebaikan. Ngga semua kejahatan bisa dibalas dengan kebaikan. 


Sebuah penegasan 'membalas kejahatan dengan kebaikan' bukan kalimat yang nyata, cuma omong kosong.. sama seperti halnya 'biar Tuhan yang balas' kalimat mengutuk orang tanpa tau sebabnya. Allah Maha Adil.