Gue ada di sebuah rumah, terlihat seperti rumah Mama. Menengok ke dalam ada mama yang sedang duduk, gue berjalan kearah depan rumah. Di depan pagar, gue melihat ada dua stroller, satu ada bayi cowok gendut yang lagi ketawa-tawa, satu lagi ada bayi cewek pakai topi. Kalau dilihat umurnya seperti bayi yang sudah bisa duduk.
Gue cuma teriak kearah mama, "Maa.. ini kenapa bayinya ditinggalin didepan sih?"
Mama cuma jawab, "Biarin aja."
Akhirnya gue bertanya ke bayi cewek yang mukanya lucu banget, "Kamu anak siapa?"
Si bayi jawab, "Anak mama eyang ati."
"Bukan anak Mama?" tanya gue sambil nunjuk diri sendiri.
"Anak mama eyang ati," bayi cewek lucu ini tetap kekeh sama jawabannya.
Gue cuma bisa senyum lalu gendong keduanya ke dalam rumah sampai mereka tertidur.
Tepat 15 minggu 6 hari, mimpi ini mungkin sebuah pertanda. Gue dikasih pilihan kali, yaa, sebelum roh ditiupkan. Bismillah Little me sehat dan sempurna.
Sunday, February 8, 2015
Mama Hamil Nyusahin
Gue salah satu Mama Hamil dan juga seorang pekerja kantoran. Ini tahapan kehidupan entah dilevel keberapa, sepertinya masih jauh dari level kayak kakek nenek jalan sore gandengan yang gue lihat waktu itu. Ini masih dalam tahapan menjawab pertanyaan "udah isi belum?" Setelah sebel sama pertanyaan "kapan nikah?" Hamil itu anugerah dan membutuhkan perencanaan juga mental. Nggak bakal nyangka ketika test pack menggambar dua garis merah yang kemudian berlanjut hingga menyaksikan calon manusia bergerak-gerak diperut via layar di ruang dokter.
Melanjutkan cerita sebelumnya, (Get Ready for the next Stage) kehamilan gue yang sekarang sudah 16 minggu ini masih nggak jauh beda dengan minggu-minggu awal. Perbedaannya hanya sedikit yang gue rasakan, seperti perut mulai kedepan kayak orang buncit, keadaan badan makin labil, dan orang-orang sekitar yang sedikit 'berubah'. Gue yang masih pecicilan mungkin bikin orang sekitar agak was was, selama masih menjadi pekerja kantoran mungkin gue tetap membutuhkan hiburan. Hamil dan bekerja juga tetap manusia normal, perlu enjoy sama keadaan dan nggak memaksakan. Mungkin kalau belum tahu akibatnya, belum mau berhenti. Contoh kasus minggu kemarin gue pulang kantor jam 3 pagi karena deadline plus dua minggu sebelumnya yang lumayan padat dan banyak duduk, akibat yang gue rasakan perut sering nyeri, badan bagian belakang pegal-pegal, masuk angin dan perut terasa kencang, lalu berakhir dengan Mbah Eko menaikkan posisi Little me yang terlalu di bawah. Minggu ini, mentok jam 1 pagi, nggak mengulangi lagi, karena itu sudah merasakan sakit kepala yang sudah nggak tertahan lagi.
Beberapa hal yang gue rasakan selama 16 minggu ini sangat beragam, seperti:
1. Morning sick
Gue menyebutnya midnight sick, 4 - 8 minggu nggak pernah mual pagi-pagi tapi pagi buta sebelum tidur mulai mual, nggak sampai muntah. Sempat mual pagi hingga muntah cairan asam lambung yang pahitnya bukan main. Tapi ternyata rasa mual datang karena sebenarnya gue lapar. Hidung super juga jadi salah satu penyebab gue mual, sih. Bau nasi saja bisa jadi masalah.
1. Morning sick
Gue menyebutnya midnight sick, 4 - 8 minggu nggak pernah mual pagi-pagi tapi pagi buta sebelum tidur mulai mual, nggak sampai muntah. Sempat mual pagi hingga muntah cairan asam lambung yang pahitnya bukan main. Tapi ternyata rasa mual datang karena sebenarnya gue lapar. Hidung super juga jadi salah satu penyebab gue mual, sih. Bau nasi saja bisa jadi masalah.
2. Nyerah sama keadaan
Akhir tahun kemarin kira-kira umur 8 minggu, banyak yang mengingatkan gue untuk nggak ngoyo kerja. Karena keadaan kantor yang sedemikian rupa, gue cuma bisa pasrah. Cuma berharap Little me kuat dan ngerti Mamanya.
Akhir tahun kemarin kira-kira umur 8 minggu, banyak yang mengingatkan gue untuk nggak ngoyo kerja. Karena keadaan kantor yang sedemikian rupa, gue cuma bisa pasrah. Cuma berharap Little me kuat dan ngerti Mamanya.
3. Lapar
Makannya nggak banyak tapi sering. Mulut kayak nggak bisa berhenti ngunyah, tangan kanan pegang mouse, tangan kiri pegang roti atau crackers. Kadang suka ngeloyor sendiri ke kantin nggak mengajak teman kantor saking nggak bisa nunggu lama atau mual kalau nggak ada asupan.
Makannya nggak banyak tapi sering. Mulut kayak nggak bisa berhenti ngunyah, tangan kanan pegang mouse, tangan kiri pegang roti atau crackers. Kadang suka ngeloyor sendiri ke kantin nggak mengajak teman kantor saking nggak bisa nunggu lama atau mual kalau nggak ada asupan.
4. Dilarang ini itu
Masih suka lompat-lompat, sempat makan pancake durian, minum coca cola, makan pempek, pulang pagi, kebanyakan duduk, jongkok tiba-tiba, bawa bawaan berat, makan sushi, tengkurap, dan lupa apa lagi. Selama dokter, nyokap dan kakak-kakak gue yang berpengalaman hamil bilang nggak apa-apa, gue cuma nggak melakukannya berlebihan. Kayak yang kita tahu kalau berlebihan itu nggak baik, bukan?
Masih suka lompat-lompat, sempat makan pancake durian, minum coca cola, makan pempek, pulang pagi, kebanyakan duduk, jongkok tiba-tiba, bawa bawaan berat, makan sushi, tengkurap, dan lupa apa lagi. Selama dokter, nyokap dan kakak-kakak gue yang berpengalaman hamil bilang nggak apa-apa, gue cuma nggak melakukannya berlebihan. Kayak yang kita tahu kalau berlebihan itu nggak baik, bukan?
5. Badan Labil
Keadaan badan yang labil nggak karuan, kadang seperti masuk angin, badan pegal-pegal dan perut terasa kembung. Bangun tidur segar, sudah rapi mau berangkat kerja tiba-tiba mual nggak ketahan. Belakangan ini sakit kepala muncul, migrain seharian cuma bisa menikmati sakitnya karena nggak berani minum obat. Napsu makan normal, makan nggak terlalu kenyang tiba-tiba muntah nggak tersisa, nggak pakai mual, sehari itu makan 4 kali cuma macaroni kukus buatan sendiri yang masuk. Kesel sama muntah, karena muntah itu membuat seluruh badan jadi nggak enak.
Keadaan badan yang labil nggak karuan, kadang seperti masuk angin, badan pegal-pegal dan perut terasa kembung. Bangun tidur segar, sudah rapi mau berangkat kerja tiba-tiba mual nggak ketahan. Belakangan ini sakit kepala muncul, migrain seharian cuma bisa menikmati sakitnya karena nggak berani minum obat. Napsu makan normal, makan nggak terlalu kenyang tiba-tiba muntah nggak tersisa, nggak pakai mual, sehari itu makan 4 kali cuma macaroni kukus buatan sendiri yang masuk. Kesel sama muntah, karena muntah itu membuat seluruh badan jadi nggak enak.
6. Moody
Nah ini, cewek pasti tau rasanya kalau lagi menstruasi, hormon nggak stabil, perut kram, dan bisa nge-drop kalau lagi nggak sehat. Nggak jauh beda, jadi Mama hamil juga begitu, belum lagi ditambah dengan yang di poin 5. Ditambah masih harus jaga perasaan orang lain. Topeng butuh lima lapis rasanya buat bisa terus cengengesan. Hehehe..
Mungkin setiap mama hamil rasanya berbeda-beda, ada yang hamil kebo (hamil cuek nggak merasa apa-apa), ada yang harus bolak-balik bed rest, ada juga yang nggak bisa ngapa-ngapain selama masa kehamilan.
Nah ini, cewek pasti tau rasanya kalau lagi menstruasi, hormon nggak stabil, perut kram, dan bisa nge-drop kalau lagi nggak sehat. Nggak jauh beda, jadi Mama hamil juga begitu, belum lagi ditambah dengan yang di poin 5. Ditambah masih harus jaga perasaan orang lain. Topeng butuh lima lapis rasanya buat bisa terus cengengesan. Hehehe..
Mungkin setiap mama hamil rasanya berbeda-beda, ada yang hamil kebo (hamil cuek nggak merasa apa-apa), ada yang harus bolak-balik bed rest, ada juga yang nggak bisa ngapa-ngapain selama masa kehamilan.
Buat gue, semua rasa dan perasaan yang dirasakan itu bisa hilang sejenak kalau gue ingat perkembangannya Little me, gimana dia bertahan, dan gue melakukan Sabtu rebahan supaya rileks dari sisaan kerjaan. Dari dulu gue kerja sudah seperti ini, bahkan ditambah dengan kuliah setiap weekend. Buat gue, orang sekitar kali ini lagi lebih perhatian sama Little me, apa yang gue lakukan seperti biasanya menjadi sebuah pantangan saat ini. Mulai menjalani kehidupan yang baru, kalau iya gue nggak perhatian sama Little me, mungkin perut ini sudah nggak ada isinya lagi.
Dukungan keluarga dan teman gue yang nggak pernah menakut-nakuti membuat kepala gue jauh lebih tenang. Percakapan jarak jauh saling berbagi dan nasehat positif menjadikan pola pikir gue lebih rapi. Nyokap yang santai bilang kalau ngidam jangan selalu diturutin, biar anaknya nanti nggak manja. Kakak ipar yang selalu bilang makan apa saja yang mau kamu makan, selama masih bisa makan, alhamdulillah nggak susah makannya. Kakak gue yang selalu nanyain kabar perkembangan dan juga yang selalu nyuruh makan dua porsi selalu bikin gue tertawa. Kakak ipar yang doyan baca buku memberi pinjam buku Kitab Hamil Terlengkap yang menjadi peralihan solusi gue kalau mulai bingung dengan keadaan badan yang lagi labil. Dan yang paling penting, Suami yang makin perhatian.
It's amazing. Life change very quickly, in a very positive way, if you let it.
- Lindsey Vonn
Little me 4 - 14 minggu
- Little Me Story, Part 2
Saturday, December 13, 2014
Get Ready for the Next Stage
Hampir saja gue mengecewakan diri sendiri, nggak percaya diri dengan apa yang sudah diberi. Kehadiran little me yang tiba-tiba sudah hampir lima minggu waktu itu membuat hati gue bingung, mau senang atau mau sedih. Senang karena ini rezeki, memang sudah dinanti. Sedih karena keadaan yang lagi seperti ini, takut kalau badan nggak stabil dan mengecewakan suami kedepannya nanti.
Dokter yang tenang menjelaskan segalanya dan selalu bilang hal terburuk yang akan terjadi kalau ada sesuatu yang nggak kita tahu. Gue hanya pasrah, melihat semakin hari semakin stress karena pekerjaan yang semakin nggak stabil, semuanya di-push sampai tenaga terakhir. Sampai pada akhirnya bisa dibawa santai sama pikiran supaya nggak stress, banyak yang mengingatkan juga kalau trimester pertama itu harus dijaga. Pikiran aman terkendali, tapi sangat disayangkan badan sudah nggak bisa dikendalikan lagi. Tiga hari sebelum hari penentuan ada janin di kantung gue atau nggak, gue sakit, awalnya hanya bersin-bersin, karena semakin diforsir nggak kenal waktu, pulang malam malah membuat gue jadi flu.
Gue semakin nggak yakin.. cuma bilang sama little me, kalau memang rejeki dan kuat bertahan, kedepannya akan gue perhatikan.
Sehari sebelum ketemu dokter lagi, badan sudah lemas sekali, awalnya nggak mau masuk kerja, ingat sama janji yang nggak bisa dilewatkan demi nggak dicaci maki. Gue paksakan, berangkat siang, pulangnya kemalaman. Demam semakin menjadi, nggak boleh ada obat flu yang dikonsumsi, hidung terasa tertutup sendiri, cuma bisa minum air putih yang banyak dan makan buah jeruk yang asam dan manis sekali-kali. Nggak bisa tidur cepat saat itu, benar-benar nggak bisa napas dari hidung, nggak taunya sudah pagi lagi. Lemas sebadan-badan, mencoba kuat tapi badan menolak. Ingat kata nyokap, jangan minum obat, bikin saja air jahe hangat. Pagi menjelang siang, sebelum sarapan lumayan bikin hangat, napas juga lumayan lega. Menjelang sore, siap-siap ketemu dokter untuk penentuan.
Dokter nggak pakai basa-basi, langsung nyuruh naik untuk USG. Ini baru tujuh minggu, alat baru nempel perut, mata gue langsung fokus ke monitor, eh, little me nongol! Dokter belum ngomong, gue udah hahahehe duluan dan tepuk tangan. Pas dokter bilang hamdalah dan memberi tahu kalau sudah ada detak jantungnya, gue langsung melirik ke suami yang lagi senyum sumringah.
Alhamdulillah..
Ternyata little me kuat dan hebat nggak ketulungan! Padahal badan mumnya lagi berantakan nggak karuan.
Ini peringatan buat gue yang masih wira wiri terlalu ngurusin kantor yang lagi nggak terkendali. Sekarang harus ingat kalau ada suami dan little me yang nggak bisa keterusan dicuekin berkali-kali. Hidup harus diseimbangkan kembali, susah senang harus tetap bahagia. Kayak harus kembali lagi ke kursi pilot untuk menstabilkan pesawat yang lagi hilang kendali.
Sekarang, mau kemana kita, little me? Terus berdetak sampai waktu yang sudah ditentukan, ya.. gue sayang sama, little me.
- Little Me Story, Part 1
Jacko!
Kehilangan sosok yang membuat gue selalu berpikir lebih gila dan bekerja lebih waras untuk menghasilkan karya yang maksimal sungguh sangat membuat hati ini kecewa. Kecewa pada diri sendiri yang nggak pernah sadar kalau hal ini pasti terjadi kapan pun. Kaget karena nggak berpikir akan secepat ini, hari itu waktu tiba di kantor dan mendengar kabar dari om Gio bahwa mas Bo sedang 'mengurus' di lantai delapan. Shock. Rasanya seperti lagi mandi dipancuran air yang segar tiba-tiba listrik mati. Gelap, nggak ada air, panik, hanya bisa terpeleset jatuh dan merasakan sakitnya dikegelapan tanpa melihat bagian yang terluka.
Nggak mau menerima jabat tangannya mas Bo setelah turun dari lantai delapan, gue cuma bisa teriak didalam hati, cuma bisa manggil-manggil nama mas Bo.
"Seharusnya gue senang, mas Bo, gue kan baru lulus kuliah. Kenapa harus kayak gini, sih, keadaannya?"
Pertanyaan itu terucap. Lebay, bisa dibilang seperti itu, tapi kalau kalian ikut merasakan dan tahu keadaannya, kalimat itu wajar untuk diucapkan. Gue nggak punya rasa percaya diri, hilang sudah rasa peduli, nggak punya kendali, hanya bisa menjalankan apa yang bakal ditinggalkan nanti.
Cukup lama untuk proses menerima keadaan itu, mas Bo pasti menyadari. Gue memilih untuk menyendiri mencari udara segar agar berpikir jernih dibandingkan nangis didepan mas Bo.
Mengingat waktu itu..
Orang yang pertama kali gue lihat diruang interview, orang yang sangat tenang diantara dua yang lainnya, orang yang nggak gue sangka ternyata bakal jadi bos gue yang paling top. Bos yang kadang terlalu santai, bikin gue jadi kesel karena gue nggak terima tim gue diperlakukan nggak adil. Tapi mas Bo nggak pernah marah, kesel sih pernah walaupun tetap berusaha untuk tetap tenang dan berpikir positif. Iya, mas Bo EPos menurut gue, Energi Positif. Malahan gue yang terlalu banyak mengeluh di depan mas Bo. Maklum gue karyawan ababil, mungkin perbedaan level yang cukup tinggi dibandingkan gue yang membuat mas Bo lebih tenang untuk menghadapi segala bentuk tantangan yang datang setiap minggunya. Gue yang selalu izin ini itu karena jadwal kuliah yang kadang barengan sama deadline kantor, mungkin mas Bo udah khatam. "Santai, ta, santai, yang penting kerjaan kamu kelar," selalu begitu jawabannya.
Sekarang...
Mas Bo sudah nggak lagi duduk di samping gue, kubikel jadi sepi tanpa lagu-lagu Koes Plus dan suara nyanyian mas Bo yang khas. Nggak ada lagi cerita aneh dengan tiruan gaya bersemangat, kayak gaya tukang bubur yang terkenal itu, baso seseupan, sampai gaya sholat orang yang berbeda-beda. Mas Bo sangat terkenal sebagai penengah, rasanya kalau kantor lagi rusuh dengan masalah ini itu, nggak tenang dan belum lengkap kalau mas Bo belum angkat bicara. Bapaknya anak-anak HAI, walaupun mas Bo yang sudah dewasa ini nggak mau dipanggil bapak. Orang yang bisa bikin anak Hai bayar seribu kalau ngomong jorok. Orang sudah dikenal banyak orang di gedung jalan panjang. Setiap gue ketemu orang dari unit lain, pasti yang ditanya kabar mas Bo. Agak sedikit sedih, bukan karena gue nggak ditanya, hanya saja mengingat kenapa mas Bo harus meninggalkan kantor bukan cerita yang menyenangkan.
Banyak cerita yang nggak mungkin gue tulis semuanya disini, semua orang tahu kalau mas Bo orangnya baik.
Gitu saja, sih.. mungkin gue lagi kangen sosok mas Bo dikeadaan seperti ini. Tulisan ini sudah mengendap lama diponsel dan akhirnya diposting juga. Gue hanya bisa mendokan yang terbaik buat semuanya, buat mas Bo juga, yup.. Bapak Joko Prayitno, pemilik Enda Endo. Hehehe..
Good luck!
Tuesday, October 14, 2014
The Beginning
Sudah nggak terhitung berapa lembar kertas yang gue pakai untuk buat tugas dan ujian. Sudah nggak terhitung berapa banyak waktu yang gue gunakan untuk kuliah disela kerja. Sudah nggak terhitung berapa lama gue pakai internet untuk browsing ini itu membantu segala macam tugas kuliah. Sudah nggak terhitung berapa banyak muka yang gue liat selama muter-muter kampus.
Sebenarnya gue nggak mau hitung-hitungan apa yang sudah gue jalani. Untuk mimpi besar seperti ini, nggak sedikit usaha dan tenaga yang dikeluarkan demi menyelesaikan apa yang sudah dimulai. Apa yang bisa diharapkan dan dibanggakan sebagai mahasiswa yang juga bekerja?
Awalnya, sih, gue nggak kepikiran untuk jalanin keduanya dalam waktu yang bersamaan. Melihat keadaan deadline kantor yang selalu ada setiap minggu, lalu gue memakai waktu libur gue untuk meneruskan gelar yang belum tahu fungsinya untuk apa. Keinginan terus belajar selalu ada dihati, lalu apa yang menguatkan gue untuk menjalani kehidupan yang mungkin menurut orang "cape-capein diri sendiri"?
Ini mimpi gue untuk bisa melanjutkan jenjang pendidikan dengan usaha sendiri walaupun diawal semester gue terseok-seok untuk hidup, apalagi ditambah dengan bayaran setiap semester dan tugas yang menyita dompet. Ini kenyataan, bukan untuk dikasihani. Ini usaha yang sudah gue lakukan selama empat tahun belakangan ini. Merasa hebat? Pastinya. Gue bisa melalui ini dengan berbagai usaha, rasa, dan suasana. Sombong? Nggak, dong. Mungkin ini bisa menjadi dorongan buat teman-teman diluar sana yang sedang menjalani hal yang sama dengan gue. Nggak cuma kuliah, mungkin hal lain yang harus dijalani dalam waktu yang bersamaan. Ini bukan hal yang mudah, hanya orang yang memandang sebelah mata yang berpikir hal ini mudah. Ini masalah perang dengan diri sendiri, banyak perasaan yang bertentangan dan membutuhkan kecepatan untuk mengambil keputusan. Mungkin dapat mengikis kebiasaan menunda, juga sedikit 'batu' karena satu dan lain hal.
Ini bisa terjadi, gue nggak nyangka setelah selesai membuat laporan kerja praktik, dosen mengajak untuk menunda libur, langsung mempercepat proses untuk menyelesaikan tugas akhir. Percaya nggak percaya, dari kepercayaan diri tingkat dewa, terseok-seok, tenggelam dalam alam sadar, terjerumus kekubangan, lemparan bola liar sampai akhirnya terpaksa untuk melonjak ke puncak gunung tertinggi dari dunia planet pluto, gue bisa menyelesaikan dengan hasil yang maksimal. Maksimalin tenaga dan waktu walaupun tabungan menjadi minim.
Minim percaya diri sempat membawa gue terbawa arus tapi banyak perpanjangan tangan dan lebarnya mulut yang membangun semangat secara perlahan. Ingat orang tua juga yang menantikan acara wisuda. Gue juga menunda untuk menantikan datangnya si buah hati demi mempercepat kembalinya kestabilan hidup gue, mengurangi lapisan kesibukan.
Dua bulan terakhir merupakan dua bulan tercepat dalam hidup gue. Persiapan karya untuk tugas akhir yang baru bisa dikerjakan mulai dua minggu terakhir. Hasilnya? Seperti ini.
Sebenarnya gue nggak mau hitung-hitungan apa yang sudah gue jalani. Untuk mimpi besar seperti ini, nggak sedikit usaha dan tenaga yang dikeluarkan demi menyelesaikan apa yang sudah dimulai. Apa yang bisa diharapkan dan dibanggakan sebagai mahasiswa yang juga bekerja?
Awalnya, sih, gue nggak kepikiran untuk jalanin keduanya dalam waktu yang bersamaan. Melihat keadaan deadline kantor yang selalu ada setiap minggu, lalu gue memakai waktu libur gue untuk meneruskan gelar yang belum tahu fungsinya untuk apa. Keinginan terus belajar selalu ada dihati, lalu apa yang menguatkan gue untuk menjalani kehidupan yang mungkin menurut orang "cape-capein diri sendiri"?
Ini mimpi gue untuk bisa melanjutkan jenjang pendidikan dengan usaha sendiri walaupun diawal semester gue terseok-seok untuk hidup, apalagi ditambah dengan bayaran setiap semester dan tugas yang menyita dompet. Ini kenyataan, bukan untuk dikasihani. Ini usaha yang sudah gue lakukan selama empat tahun belakangan ini. Merasa hebat? Pastinya. Gue bisa melalui ini dengan berbagai usaha, rasa, dan suasana. Sombong? Nggak, dong. Mungkin ini bisa menjadi dorongan buat teman-teman diluar sana yang sedang menjalani hal yang sama dengan gue. Nggak cuma kuliah, mungkin hal lain yang harus dijalani dalam waktu yang bersamaan. Ini bukan hal yang mudah, hanya orang yang memandang sebelah mata yang berpikir hal ini mudah. Ini masalah perang dengan diri sendiri, banyak perasaan yang bertentangan dan membutuhkan kecepatan untuk mengambil keputusan. Mungkin dapat mengikis kebiasaan menunda, juga sedikit 'batu' karena satu dan lain hal.
Ini bisa terjadi, gue nggak nyangka setelah selesai membuat laporan kerja praktik, dosen mengajak untuk menunda libur, langsung mempercepat proses untuk menyelesaikan tugas akhir. Percaya nggak percaya, dari kepercayaan diri tingkat dewa, terseok-seok, tenggelam dalam alam sadar, terjerumus kekubangan, lemparan bola liar sampai akhirnya terpaksa untuk melonjak ke puncak gunung tertinggi dari dunia planet pluto, gue bisa menyelesaikan dengan hasil yang maksimal. Maksimalin tenaga dan waktu walaupun tabungan menjadi minim.
Minim percaya diri sempat membawa gue terbawa arus tapi banyak perpanjangan tangan dan lebarnya mulut yang membangun semangat secara perlahan. Ingat orang tua juga yang menantikan acara wisuda. Gue juga menunda untuk menantikan datangnya si buah hati demi mempercepat kembalinya kestabilan hidup gue, mengurangi lapisan kesibukan.
Dua bulan terakhir merupakan dua bulan tercepat dalam hidup gue. Persiapan karya untuk tugas akhir yang baru bisa dikerjakan mulai dua minggu terakhir. Hasilnya? Seperti ini.
Buku ilustrasi "Toi.let" karya Freska Paramita
Bangga sama diri gue sendiri. Waktu yang singkat untuk prosesnya hingga menjadi buntelan salah satu diluar impian gue. Hasil karya yang nggak cuma mengendap difolder komputer, nggak cuma dipajang diblog, nggak cuma digeletak setelah semuanya selesai.
Semoga jalan makin diluruskan, hanya berserah diri kepada-Nya, Yang Maha Segalanya.
Sekarang semuanya sudah selesai, tinggal menantikan tanggal, saat gue memakai jubah hitam dihadapan Mama yang bakal bangga sama anaknya yang berjuang cukup lama. Sepenggal obrolan ditelepon yang bikin mata banjir sehari sebelum gue maju sidang, "Baca doa, semoga lancar. Kuliah berjuang sendiri, selesai juga yaa.. mama cuma bisa bantu doa." Memang, belakangan ini lagi jarang pulang kerumah, demi kejaganya badan, selesainya hasil karya, dan beresnya urusan ini itu di kampus. Egois.. sangat egois. Melewatkan beberapa kali kumpul keluarga. Mau bagaimana lagi, cuma itu caranya karena waktu menjadi sangat berarti demi selesainya kuliah ini.
Bersama teman-teman seperjuangan melewati badai tugas akhir ini, dari yang cuma ketawa ketiwi baru kenal sesama mahasiswa baru, berkembang menjadi jumpalitan bikin tugas, mondar-mandir kepercetakan, pulang kantor ke kampus jam malam, sampai akhirnya bisa menyelesaikan semuanya pada waktu yang bersamaan. Salut gue untuk teman satu angkatan, DG#17, yang tetap bertahan untuk terus berjuang hingga titik terakhir. Keadaan memang menentukan segalanya, syarat yang berbelit nggak seharusnya memutus semangat, walaupun angkatan kami terbagi dua sesi, waktu yang singkat ini nggak akan terasa berat. Semuanya, harus tetap semangat!
Terima kasih banyak atas segala bentuk dukungannya.
Sujud syukur untuk Allah SWT yang telah memberikan kekuatan untuk melangkah, tanpa izin-Nya, gue nggak bisa apa-apa. Doa Mama juga pasti didengar karena gue yakin doa seorang ibu untuk anaknya adalah doa yang paling didengar oleh-Nya. Papa yang masih suka telepon dari laut menanyakan kabar, ucapan selamat yang gue terima melalui ponsel bikin hati gemetar. Terenyuh juga dengan kelakuan suami yang diam-diam bikin pengen nangis, kebaikannya yang nggak ketakar kadang bikin kejutan. Komit dengan ucapan yang dilontarkan sebelum kami menikah, semuanya yang dijanjikan untuk terus mendukung sampai berakhirnya kehidupan perkuliahan ini. Mama Dani yang mungkin bingung dengan kelakuan menantunya yang diam-diam suka pulang pagi, berangkat kerja kesiangan, dan melihat kamar yang berantakan. Mama Dani yang selalu bilang mendoakan kami berdua untuk selalu mendapatkan yang terbaik. Semoga semua kemudahan dari dukungan dan doa ini terus berlanjut sampai gue disadarkan untuk selalu bersujud. Nggak lengkap kalau belum menyebutkan Ayah, Bunda, Mama Ninik, Bapak Daddy, Mamoy, Papoy, Avis, Aii, Mba Jean, Julian, dan keponakan yang selalu bikin gemes, yang selalu berisik digroup ngobrol banyak. Terima kasih banyak.
Teman seperjuangan tugas akhir, Ika, Debby, Narti, Bimo, Adin, Gaby, Ogi, Andria, yang terus semangat dari ngebut bikin karya untuk sidang sampai mendapatkan selembar kertas keterangan pengumpulan tugas akhir, kalian hebat, gue salut sama semangat kalian! Ikan, Deboy, Mba LunMay, aylafyuh. Sidang percepatan ini memang membuat gue makin gila, sudah nggak tahu harus berbuat kayak gimana. Sensi tingkat dewa, kurang dan kadang kebanyakan tidur, diam sunyi senyap, guling-gulingan dikasur sampai ke Bekasi, izin ini itu, dan ngeribetin sana sini. Keberadaan kalian diwaktu yang gawat masih tetap bikin tertawa. Hal ini yang membuat semua yang harus diselesaikan menjadi lebih ringan. Mayson yang nggak ikutan tugas akhir juga rajin membantu ranger DG#17 lainnya, mukanya sangar tapi hatinya berbinar. Dukungan dari chit chat digroup DG 17 yang doyan banget becanda, nggak pernah pupus. Kalian yang segera menyusul, Ican, Dwi, Andre, Djarwo, Dado, Tebe, Reza, Bray, Ismail, dan teman lainnya, terus maju pantang mundur. Badai tugas akhir pasti berlalu. Good luck buat kita semua.
Para dosen yang pusing juga dengan sidang percepatan ini ditambah dengan kelakuan kami yang selalu terburu-buru minta ini itu. Pak Lukman, dosen pembimbing gue yang paling sabar sangat membantu mempercepat segalanya, termasuk membantu sistematika penulisan laporan dalam hitungan hari yang bikin gue mumet dengan tulisan dan settingan di Ms. Word. Pak Hady sebagai Kaprodi yang selalu tenang membawa suasana menjadi aman, walaupun gue tetap deg degan. Deretan dosen penguji yang memberikan banyak masukan untuk kebaikan karya kami kedepannya dan harus pulang malam di tanggal 6 Oktober 2014, Pak Afiq, Pak Agus Budi, Pak Joko, Pak Denta, Bu Ariani, Pak Agus Nursidhi, Pak Ali... Terima kasih. Staff TU, BAK, BAA, terima kasih atas kesabarannya.
Gue izin, gue cuti, gue izin, gue telat, cuma mas Bo yang paling sabar sama kelakuan gue belakangan ini, dia selalu diposisi sebagai orang yang paling pengertian, walaupun kayaknya kesel karena gue mulai nggak fokus sama kerjaan. Maafkan juniormu ini, selalu nyusahin dan bikin bingung, cuma mau memisahkan antara kerjaan dan kehidupan gue yang lain, demi seminggu kepala melintir menyelesaikan segalanya. Mas Danie yang panik saat gue minta izin untuk fokus ke tugas akhir ini, akhirnya bisa nyengir lagi saat hasil sidang gue sudah diumumkan. 86, mas! Gue juga nggak minta bantuan macam-macam sebelum sidang karena gue tau keadaan kantor seperti apa, cukup sebuah dukungan beberapa jam sebelum gue sidang dari rekan kerja di redaksi, Mas Yorgi, Mate, Dosir, Uwie, Niken, Ega, Fikar, Wahyu, Bang Gats, mas Budi, Om Daus, Mas Ilham, Agassi, Gita, Rian, Zaki, Sobri, Prana, Mas Ryo, Satria, Runi, Rama, Alvin, Mas Imam, Bang Frans. Terkejut? Ya begitulah. Terpaksa hari H cuti, mungkin menjadi harus ketika gue berpikir ini hari penentuan gue setelah empat tahun menjalani ini. Semangat bikin karya juga semakin meningkat ketika penulis ternama Edi Dimyati mengajak "kencan" dengan penerbit besar di Jakarta yang kemudian membuahkan hasil yang maksimal, terima kasih dari bumi ke langit, Mas Edi dan Mas Ketut. Selain ilustrator handal, Om Gio juga menawarkan bantuan untuk menulis makalah, gue malah bingung karena gue juga buta banget kalau disuruh nulis yang baku. Tapi tulisan abstrak gue dibantu translate sama guru bahasa Inggris, Bung Adhie. Terima kasih atas dukungannya.
Eris lele, Tante Yudieth.. Kalau waktu itu nggak jadi ketemuan, mungkin gue sudah terpuruk. Oke gue lebay, thank you so much buat malam itu walaupun gue sempat berfikir beruntungnya gue masih bisa ketemu kalian setelah mendengar kabar mengerikan itu. Terus ketemu, update kabar, gue nggak mau kehilangan kalian!
Untuk semua yang memberi respon email gue, banyaknya pertanyaan yang dijawab dan share cerita yang unik dan absurd mungkin sedikit menyusahkan juga membingungkan temanya, tapi hasil karya gue jadi punya alasan karena jawaban kalian. Ini serius, eh gitu deh, Kadek, Atha, Adnan, Aa Boniex, Hans Kotaro minami, Indah. Hey kalian juga Bebek Joko ladies, Chitra, Mpokgaga, Ajeng, yang punya cerita absurd tentang toilet, makasih banyak, kuliah gue kelar coooooy.. traktir gue udon dong, *eh.
Sidang selesai membawa gue ke lapangan futsal lagi di gedung pentagon Palmerah Selatan, sama tim futsal putri GOM, dua pertandingan gue cuma dapat dua gol di pertandingan pertama. Mungkin benar-benar gol pelampiasan, satu gol "tendangan setelah menikah" dan satu lagi gol "tendangan setelah tugas akhir" istilahnya. Thanks, gals atas dukungunnya, tiga kali latihan sekip terus. Final match juga nggak bisa gabung karena harus beresin laporan sama dosen. Coach Adit, terima kasih banyak sudah mau jadi pelatih cewek-cewek tangguh ini, juga kesempatan yang dikasih buat keringetan cantik di lapangan.
Banyak dukungan, banyak bantuan, banyak orang yang gue ajak ngomong demi menenangkan pikiran. Nggak cuma suami, tukang gado-gado depan kantor juga gue ajak ngobrol. Bukan cuma bantuan ngerjain semua tugas, belajar dan dengar cerita dari orang yang semangatnya menggila bikin gue sadar dan paling nggak bikin gue terpacu untuk ikutan semangat. Beberapa kali menepis energi negatif, demi terkumpulnya energi positif.
Terima kasih untuk orang-orang yang terlibat dalam proses pengerjaan tugas akhir gue. Dari suami, keluarga, sahabat terdekat, teman-teman, rekan kerja, operator cetak, tukang ojek, supir taksi, supir angkot, supir bis, sampai yang memberi selamat setelah gue lulus sidang. Terima kasih atas pengertian dan perhatiannya. Maaf jika ada salah kata yang terucap maupun yang tertulis.
Semoga semua bahagia, semua sehat.
Salam dari sarjanawati. Hehehe..
Cheers!
Gue izin, gue cuti, gue izin, gue telat, cuma mas Bo yang paling sabar sama kelakuan gue belakangan ini, dia selalu diposisi sebagai orang yang paling pengertian, walaupun kayaknya kesel karena gue mulai nggak fokus sama kerjaan. Maafkan juniormu ini, selalu nyusahin dan bikin bingung, cuma mau memisahkan antara kerjaan dan kehidupan gue yang lain, demi seminggu kepala melintir menyelesaikan segalanya. Mas Danie yang panik saat gue minta izin untuk fokus ke tugas akhir ini, akhirnya bisa nyengir lagi saat hasil sidang gue sudah diumumkan. 86, mas! Gue juga nggak minta bantuan macam-macam sebelum sidang karena gue tau keadaan kantor seperti apa, cukup sebuah dukungan beberapa jam sebelum gue sidang dari rekan kerja di redaksi, Mas Yorgi, Mate, Dosir, Uwie, Niken, Ega, Fikar, Wahyu, Bang Gats, mas Budi, Om Daus, Mas Ilham, Agassi, Gita, Rian, Zaki, Sobri, Prana, Mas Ryo, Satria, Runi, Rama, Alvin, Mas Imam, Bang Frans. Terkejut? Ya begitulah. Terpaksa hari H cuti, mungkin menjadi harus ketika gue berpikir ini hari penentuan gue setelah empat tahun menjalani ini. Semangat bikin karya juga semakin meningkat ketika penulis ternama Edi Dimyati mengajak "kencan" dengan penerbit besar di Jakarta yang kemudian membuahkan hasil yang maksimal, terima kasih dari bumi ke langit, Mas Edi dan Mas Ketut. Selain ilustrator handal, Om Gio juga menawarkan bantuan untuk menulis makalah, gue malah bingung karena gue juga buta banget kalau disuruh nulis yang baku. Tapi tulisan abstrak gue dibantu translate sama guru bahasa Inggris, Bung Adhie. Terima kasih atas dukungannya.
Eris lele, Tante Yudieth.. Kalau waktu itu nggak jadi ketemuan, mungkin gue sudah terpuruk. Oke gue lebay, thank you so much buat malam itu walaupun gue sempat berfikir beruntungnya gue masih bisa ketemu kalian setelah mendengar kabar mengerikan itu. Terus ketemu, update kabar, gue nggak mau kehilangan kalian!
Untuk semua yang memberi respon email gue, banyaknya pertanyaan yang dijawab dan share cerita yang unik dan absurd mungkin sedikit menyusahkan juga membingungkan temanya, tapi hasil karya gue jadi punya alasan karena jawaban kalian. Ini serius, eh gitu deh, Kadek, Atha, Adnan, Aa Boniex, Hans Kotaro minami, Indah. Hey kalian juga Bebek Joko ladies, Chitra, Mpokgaga, Ajeng, yang punya cerita absurd tentang toilet, makasih banyak, kuliah gue kelar coooooy.. traktir gue udon dong, *eh.
Sidang selesai membawa gue ke lapangan futsal lagi di gedung pentagon Palmerah Selatan, sama tim futsal putri GOM, dua pertandingan gue cuma dapat dua gol di pertandingan pertama. Mungkin benar-benar gol pelampiasan, satu gol "tendangan setelah menikah" dan satu lagi gol "tendangan setelah tugas akhir" istilahnya. Thanks, gals atas dukungunnya, tiga kali latihan sekip terus. Final match juga nggak bisa gabung karena harus beresin laporan sama dosen. Coach Adit, terima kasih banyak sudah mau jadi pelatih cewek-cewek tangguh ini, juga kesempatan yang dikasih buat keringetan cantik di lapangan.
Banyak dukungan, banyak bantuan, banyak orang yang gue ajak ngomong demi menenangkan pikiran. Nggak cuma suami, tukang gado-gado depan kantor juga gue ajak ngobrol. Bukan cuma bantuan ngerjain semua tugas, belajar dan dengar cerita dari orang yang semangatnya menggila bikin gue sadar dan paling nggak bikin gue terpacu untuk ikutan semangat. Beberapa kali menepis energi negatif, demi terkumpulnya energi positif.
Terima kasih untuk orang-orang yang terlibat dalam proses pengerjaan tugas akhir gue. Dari suami, keluarga, sahabat terdekat, teman-teman, rekan kerja, operator cetak, tukang ojek, supir taksi, supir angkot, supir bis, sampai yang memberi selamat setelah gue lulus sidang. Terima kasih atas pengertian dan perhatiannya. Maaf jika ada salah kata yang terucap maupun yang tertulis.
Semoga semua bahagia, semua sehat.
Salam dari sarjanawati. Hehehe..
Cheers!
Saturday, September 20, 2014
a glass of water
Langkah sederhana yang lagi gw jalani belakangan ini cuma minum air putih delapan gelas per hari. Nggak ekstrim sampai harus makan sehat yang rebus-rebusan, tanpa garam, mengurangi nasi atau diet yang beragam itu. Dulu sempat, sih, kepikiran untuk diet golongan darah, gara-gara liat David Bayu datang ke kantor badannya beda banget kalau dibandingkan awal-awal dia muncul. Tapi kalau melihat badan gw yang kerempeng ini udah nggak perlu diet yang berlebihan, yang penting hidup sehat dulu.
Kenapa gw mulai disiplin minum air putih delapan gelas per hari?
Sadar diri ngeliat kulit gw yang semakin kering dan kepala sering pusing, lebih tepatnya mungkin migrain. Dulu, setiap gw mulai merasa pusing atau ngga enak badan, kakak gw nggak pernah menyarankan untuk minum obat, dia selalu bilang minum air putih yang banyak, makan yang banyak, dan istirahat. Mungkin badan gw juga kaget kalau tiba-tiba ada air masuk ke perut banyak banget, sering enek kalau minum banyak dan suka maksain minum nggak berenti satu botol. Sudah pasti yang berlebihan itu nggak baik, kan? Kalau kesadaran minum air putih itu perlu sudah lumayan sadar, sadar kalau kepala mulai pusing. Sempat membeli tempat minum yang besar untuk ditaruh di meja kantor sebagai pengingat untuk minum air putih yang banyak, ngga terlalu berjalan lancar, selain tempat minumnya sempat hilang (dan ternyata rusak nggak tahu dicuci sama ob yang mana) pola pikir gw jadi berbeda, jadi seperti gw harus menhabiskan air di tempat minum yang besar itu yang sebenarnya nggak bagus juga untuk kesehatan kalau minum terlalu banyak.
Alasan lain, ada iklan sebuah air mineral, sebut saja AQUA *eh, yang mengajak untuk minum delapan gelas per hari, lumayan mengingatkan diri, sih, karena itu memang yang dibutuhkan oleh tubuh. Mulailah gw browsing yang berhubungan dengan air itu, sampai pada akhirnya gw menemukan riset perbedaan wajah sebelum dan sesudah minum air putih secara teratur. Nggak mau muluk-muluk sih yang penting rajin minum air putih, ambil air minum ke dispenser menjadi alasan untuk bergerak agar nggak kelamaan duduk di meja kerja. Banyak yang memberi saran untuk membeli botol besar yang bisa menampung air sesuai kebutuhan setiap harinya, menurut gw, orang seperti gw yang lebih banyak duduk di depan komputer cara itu malah membuat gw nggak bergerak. Biarkan gelas kosong, dengan demikian gw sadar untuk jalan mengambil minum, kalau perlu isi satu gelas, duduk di dekat dispenser, habiskan secara perlahan sambil mengobrol sama teman yang lain, nah, sebelum kembali ke meja kerja isi gelas lagi untuk diminum diwaktu berikutnya. Setelah beberapa minggu gw rutin menjalani ini, sudah nggak pernah lagi merasakan sakit kepala ataupun migrain, mau lagi deadline atau kerjaan maupun pikiran numpuk sekalipun. Mungkin karena hidup itu harus seimbang, nggak cuma gara-gara air saja, ibadah juga harus disiplin biar hati dan pikiran adem, hehehe.
Ilustrasi sederhana ini gw buat untuk mengingatkan teman-teman yang masih jarang minum air putih setiap harinya dan untuk teman-teman yang malas mengangkat pantat dari kursi untuk mengambil air minum. Merangkum dari sebuah film yang mengatakan bahwa wanita itu terbagi dua warna, biru dan merah muda karena keduanya harus seimbang sehingga mereka dapet bersenang-senang. Gw cuma mengingatkan satu gelas air putih, sisanya biar kalian yang mengingatnya.
#mencoba_sehat #mencoba_mengerti_tubuh
Semoga bersemangat!
Kenapa gw mulai disiplin minum air putih delapan gelas per hari?
Sadar diri ngeliat kulit gw yang semakin kering dan kepala sering pusing, lebih tepatnya mungkin migrain. Dulu, setiap gw mulai merasa pusing atau ngga enak badan, kakak gw nggak pernah menyarankan untuk minum obat, dia selalu bilang minum air putih yang banyak, makan yang banyak, dan istirahat. Mungkin badan gw juga kaget kalau tiba-tiba ada air masuk ke perut banyak banget, sering enek kalau minum banyak dan suka maksain minum nggak berenti satu botol. Sudah pasti yang berlebihan itu nggak baik, kan? Kalau kesadaran minum air putih itu perlu sudah lumayan sadar, sadar kalau kepala mulai pusing. Sempat membeli tempat minum yang besar untuk ditaruh di meja kantor sebagai pengingat untuk minum air putih yang banyak, ngga terlalu berjalan lancar, selain tempat minumnya sempat hilang (dan ternyata rusak nggak tahu dicuci sama ob yang mana) pola pikir gw jadi berbeda, jadi seperti gw harus menhabiskan air di tempat minum yang besar itu yang sebenarnya nggak bagus juga untuk kesehatan kalau minum terlalu banyak.
Alasan lain, ada iklan sebuah air mineral, sebut saja AQUA *eh, yang mengajak untuk minum delapan gelas per hari, lumayan mengingatkan diri, sih, karena itu memang yang dibutuhkan oleh tubuh. Mulailah gw browsing yang berhubungan dengan air itu, sampai pada akhirnya gw menemukan riset perbedaan wajah sebelum dan sesudah minum air putih secara teratur. Nggak mau muluk-muluk sih yang penting rajin minum air putih, ambil air minum ke dispenser menjadi alasan untuk bergerak agar nggak kelamaan duduk di meja kerja. Banyak yang memberi saran untuk membeli botol besar yang bisa menampung air sesuai kebutuhan setiap harinya, menurut gw, orang seperti gw yang lebih banyak duduk di depan komputer cara itu malah membuat gw nggak bergerak. Biarkan gelas kosong, dengan demikian gw sadar untuk jalan mengambil minum, kalau perlu isi satu gelas, duduk di dekat dispenser, habiskan secara perlahan sambil mengobrol sama teman yang lain, nah, sebelum kembali ke meja kerja isi gelas lagi untuk diminum diwaktu berikutnya. Setelah beberapa minggu gw rutin menjalani ini, sudah nggak pernah lagi merasakan sakit kepala ataupun migrain, mau lagi deadline atau kerjaan maupun pikiran numpuk sekalipun. Mungkin karena hidup itu harus seimbang, nggak cuma gara-gara air saja, ibadah juga harus disiplin biar hati dan pikiran adem, hehehe.
Ilustrasi sederhana ini gw buat untuk mengingatkan teman-teman yang masih jarang minum air putih setiap harinya dan untuk teman-teman yang malas mengangkat pantat dari kursi untuk mengambil air minum. Merangkum dari sebuah film yang mengatakan bahwa wanita itu terbagi dua warna, biru dan merah muda karena keduanya harus seimbang sehingga mereka dapet bersenang-senang. Gw cuma mengingatkan satu gelas air putih, sisanya biar kalian yang mengingatnya.
#mencoba_sehat #mencoba_mengerti_tubuh
Semoga bersemangat!
Tuesday, September 16, 2014
Butuh Kalimat
Sedikit pembuka untuk melanjutkan segala kata-kata yang harus disampaikan sebelum Oktober 2014 tiba. Ketika memilih, terkadang pertimbangan saja tidak cukup, perasaan juga menjadi pengaruh yang cukup besar. Segala macam ingatan yang terkandung didalamnya menjadi faktor, namun harus memilih salah satu faktor utama yang digunakan untuk menjadi senjata. Kebiasaan saja tidak cukup, harus mencari beberapa faktor pendukung untuk menjadikan alasan yang kuat demi terbangunnya sebuah kalimat.
Kalimat, hmm... seperti, "Aku suka kamu karena aku tahu kamu suka aku tapi kamu nggak berani bilang." yaa.. kalimat yang jelas, beralasan, dan nggak bisa diganggu gugat, mungkin juga membuat tercengang sebentar. Sama kayak artikel semalem yang dibaca, ngga cuma memuji anak, tapi berikan juga alasan kenapa mereka dipuji, agar mereka tahu apa yang mereka lakukan.
Ini mulai meracau. Ayo cari kalimatnya.
Kalimat, hmm... seperti, "Aku suka kamu karena aku tahu kamu suka aku tapi kamu nggak berani bilang." yaa.. kalimat yang jelas, beralasan, dan nggak bisa diganggu gugat, mungkin juga membuat tercengang sebentar. Sama kayak artikel semalem yang dibaca, ngga cuma memuji anak, tapi berikan juga alasan kenapa mereka dipuji, agar mereka tahu apa yang mereka lakukan.
Ini mulai meracau. Ayo cari kalimatnya.
Subscribe to:
Posts (Atom)





